Kamis, 18 November 2010

Karena Dekapanmu

Karya : D. Dudu AR

Sementara letihku selama pengembaraan

Tak kutemui telaga yang mampu menghilangkan dahaga panjang

Aku jatuh dalam pangkuanmu yang hangat

Kau rengkuh ragaku yang terkulai di bawah pohon rindang

Kemudian mendekap selayak kekasihmu yang tersayang

Maaf jika aku menginginkan lebih dari itu

Karena degup jantung tak mampu ku redam hingga aku benar-benar menginginkanmu seutuhnya

25-11-2004

Di sini

Karya : D. Dudu AR

Aku bukan raja seperti kekasihmu yang dipuja

Aku juga bukan pengemis yang menanti belas kasih permaisuri

Aku hanya ingin hati yang putih, seputih mahkota yang selalu terjaga

Di sini, aku menanti, ketika malam mengajak sepi sampai pagi berselingkuh dengan matahari

10 Februari 2005

Do’a untuk Kekasih

Karya : D. Dudu AR


Mimpilah diselimut awan

Yang menjanjikan kelembutan

Dikala galau adalah teman setia

Dikala resah adalah teman sejati

Menarilah di gelombang awan sepuasnya tanpa angin sebagai ritmenya

Jangan jatuh dulu sebelum menggapai langit biru

Karena akan kau temui di sana, pemuja yang melebihi pemujamu

Katakanlah, kau sanggup memutus ribuan akar yang menjeratmu

Agar sayapmu bebas mengepakkan arah menuju singgasana baru

16 April 2006

Larilah!

Karya : D. Dudu AR

Wahai yang tersakiti, berlarilah secepat kilat

hiruplah udara suci yang didambakan

dalam setiap mimpi yang terkunci

Februari, 2005

Sari-sari Bunga Pada Parasmu

Karya : D. Dudu AR

Pada paras ayumu

kelopak-kelopak menjadi siluet kelabu

Mengisyaratkan kelayuan bunga Yang telah terhisap sari-sarinya

Tasikmalaya, 18 April 2005

Mata Hati

Karya : D. Dudu AR


Jika mata meresap ke dalam rasa, maka padang yang bara

Dapat dilalui tanpa terbakar, merintih, lelah dan terpanggang di bawah tungku langit siang

Tasikmalaya, 5 Juni 2005

Rabu, 29 September 2010

Penantian 1

Karya : D. Dudu AR



: Fiorenza Fahrasha Jilanzhiya

Dihadapan ayat Tuhan dan kidung blues langit siang
hujan tetap jatuh merembes pada relung yang juga tak pernah reda
menerawang tangisan pertama sang biduan jelita
di pundak perempuan yang sekokoh Tectonia grandis

Di sini, di balik jendela harapan selalu gulana
jika membayangkan benih yang tentu sudah matang dipetik buahnya
dari taman perawan yang lindap, tanpa disaksikan tuannya.

Jelas sekali engkau bergelayutan pada ranting bulan
dimanjakan tiupan angin hingga ke sana ke mari engkau riang
tentu engkau betah di bundaran utara yang hening dan bening

2010